![]() |
| Salah satu murid SD 010 , Diduga keracunan usai komsumsi makanan MBG. (foto red) |
KabarDesa. CO. ID SULBAR--Sebanyak 16 siswa harus mendapatkan penanganan medis setelah diduga mengalami keracunan makanan usai mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, Sabtu (14/2/2026).
Para siswa yang berasal dari SDN 010 Paku, Kecamatan Binuang, harus dilarikan ke Puskesmas Binuang setelah menunjukkan gejala yang mengarah pada keracunan makanan. Sejumlah siswa bahkan harus mendapatkan perawatan intensif berupa infus di Unit Gawat Darurat.
Guru SDN 010 Paku, Murni, mengungkapkan insiden terjadi sesaat setelah siswa mengonsumsi paket MBG yang didistribusikan dalam wadah ompreng ke sekolah.
“Sebanyak 16 siswa mengalami gejala dan langsung kami larikan ke Puskesmas. Ada sekitar 20 siswa kelas enam yang sempat mengonsumsi makanan tersebut,” ungkap Murni kepada wartawan.
Ia menjelaskan, pihak sekolah langsung menghentikan konsumsi MBG setelah beberapa siswa mulai mengeluhkan kondisi kesehatan. Beberapa kelas lain bahkan belum sempat menyantap makanan tersebut saat kejadian mulai terdeteksi.
Menurutnya, para siswa tiba-tiba mengalami pusing, mual, lemas, hingga bolak-balik ke kamar mandi. Dari jumlah tersebut, 12 siswa mengalami kondisi lemah yang cukup serius hingga membutuhkan penanganan medis segera.
Insiden ini memunculkan tanda tanya besar terhadap sistem pengelolaan dan pengawasan keamanan pangan dalam program MBG. Dugaan kelalaian mulai mencuat, terutama terkait standar higienitas dapur, pengawasan kualitas bahan baku, hingga prosedur distribusi makanan.
Sejumlah pihak menilai kejadian ini berpotensi mengindikasikan lemahnya kontrol mutu makanan, termasuk kemungkinan pelanggaran standar penyimpanan, pengolahan, serta pengiriman makanan yang seharusnya menjamin kelayakan konsumsi bagi siswa.
Selain itu, belum diketahui secara pasti apakah pengelola telah menerapkan prosedur penyimpanan sampel makanan sebagai bagian dari mitigasi risiko keamanan pangan. Ketiadaan sistem pelacakan bahan baku dan proses produksi juga dikhawatirkan dapat menghambat proses investigasi.
Kasus ini turut menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap rantai distribusi MBG, mengingat makanan dikirim dalam jumlah besar dan harus tetap terjaga kualitas serta keamanannya hingga sampai ke tangan penerima manfaat.
Peristiwa ini mendorong desakan agar dilakukan investigasi menyeluruh guna memastikan penyebab pasti dugaan keracunan, sekaligus mengevaluasi standar operasional pengelolaan dapur MBG. Transparansi hasil pemeriksaan juga dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap program pemenuhan gizi bagi pelajar.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola MBG terkait dugaan penyebab insiden tersebut.
