KabarDesa. CO. ID TAPTENG-- Pagi hari di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, tak lagi dimulai dengan derasnya aliran air dari keran.
Sebaliknya, aktivitas penghuni kini diawali dengan langkah tergesa membawa ember, turun ke lantai dasar, lalu kembali naik dengan beban air di pundak.
Kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari satu bulan. Sejak itu, pasokan air bersih dari Perumda Air Minum Mual Nauli yang selama ini menjadi sumber utama, tidak lagi mengalir ke unit hunian.
Rusunawa yang terletak di Jalan Feisal Tanjung, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Pandan ini dihuni oleh warga tetap serta penyintas banjir bandang dan longsor 25 November 2025 yang menempatinya sebagai hunian sementara. Dalam keterbatasan, keduanya kini menghadapi persoalan yang sama: krisis air bersih.
“Sudah lebih dari satu bulan air dari Perumda tidak masuk ke Rusunawa,” ujar BM, salah seorang penghuni, Rabu (18/3/2026).
Sejak aliran terhenti, aktivitas sehari-hari berubah menjadi perjuangan fisik. Penghuni terpaksa mengambil air dari sumber alternatif di sekitar bangunan, lalu mengangkutnya ke lantai masing-masing.
Seorang penghuni lain yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku harus bolak-balik dari lantai satu hingga lantai lima setiap hari demi memenuhi kebutuhan dasar.
“Setiap hari harus angkut air dari bawah ke atas. Itu pun hanya dari sumur bor, dan baunya menyengat,” ujarnya.
Sumur bor yang kini menjadi tumpuan utama justru memunculkan persoalan baru. Air yang dihasilkan dinilai kurang layak konsumsi karena berbau, namun tetap digunakan karena tidak ada pilihan lain.
Di tengah kondisi tersebut, keresahan warga mulai berkembang menjadi tanda tanya. Sejumlah penghuni meragukan bahwa terhentinya aliran air semata-mata disebabkan gangguan teknis.
Pasalnya, berdasarkan informasi yang beredar di kalangan warga, distribusi air Perumda di wilayah sekitar disebut telah kembali normal. Namun hingga kini, pasokan tersebut belum juga mengalir ke Rusunawa.
Dari situ, muncul dugaan di kalangan warga bahwa penghentian aliran air tidak sepenuhnya bersifat teknis. Mereka menilai ada kemungkinan distribusi air ke Rusunawa tidak diprioritaskan.
Bahkan, sebagian warga menduga kondisi ini dibiarkan berlarut sehingga menimbulkan kesan krisis, yang berpotensi membuka peluang bantuan pembangunan sumur bor dari pihak luar.
Keluhan terkait krisis air bersih ini sebelumnya telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melalui layanan pesan resmi sejak 11 Maret 2026. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah daerah maupun pihak pengelola Rusunawa.
Di tengah ketidakpastian, penghuni Rusunawa Pandan terus menjalani hari dengan keterbatasan. Ember demi ember diangkat, tangga demi tangga dilalui—sementara harapan akan kembalinya aliran air bersih masih menggantung tanpa kepastian. (Rahmat)
