Notification

×

Iklan

Iklan

Dharma Santi Nyepi Saka 1948 di Surabaya, Gubernur Jatim Serukan Perdamaian Global dan Harmoni Lintas Iman

Selasa, 05 Mei 2026 | 06:00 WIB |

Peringati Dharma Shanti Nyepi Saka 1948, Gubernur Jawa Timur Ajak Umat Perkuat Harmoni dan Perdamaian Global .(Yulio/Kabardesa.co.id)

SURABAYA,Kabardesa.co.id
 – Ribuan umat Hindu dari berbagai daerah di Jawa Timur memadati kawasan pada Minggu (3/5/2026). Mereka menghadiri puncak perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 melalui gelaran Dharma Santi Provinsi Jawa Timur yang berlangsung khidmat dan penuh makna.

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat moderasi beragama serta mempererat persaudaraan lintas iman di tengah keberagaman masyarakat.


Hadir dalam acara tersebut, Gubernur Jawa Timur menegaskan pentingnya mengamalkan filosofi Vasudhaiva Kutumbakam, yang bermakna seluruh umat manusia adalah satu keluarga di bawah satu langit.


Dalam sambutannya, Khofifah mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjadi pelopor perdamaian, terutama di tengah kondisi global yang masih diwarnai berbagai konflik.


“Dharma Santi Nyepi tahun ini mengajak kita sebagai bagian dari keluarga besar Jawa Timur, Indonesia, bahkan dunia, untuk menghentikan konflik dan membangun perdamaian. Mari kita tebarkan energi positif dan kasih sayang agar bumi ini menjadi tempat yang damai bagi semua,” ujarnya di hadapan sekitar 5.000 umat yang hadir.


Mengusung tema nasional “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni, Indonesia Maju”, perayaan Dharma Santi tahun ini dinilai memiliki makna yang semakin mendalam.


Ketua (PHDI) Jawa Timur, , menyebut perayaan kali ini terasa istimewa karena berdekatan dengan momentum Hari Raya Idul Fitri dan Paskah.


“Ini merupakan berkah luar biasa. Momentum hari raya yang berdekatan mampu mempererat hubungan lintas agama di Jawa Timur. Kami berharap nilai-nilai suci Nyepi membawa dampak nyata bagi kemajuan dan stabilitas daerah,” ungkapnya.


Tak hanya sarat nilai spiritual, acara juga dimeriahkan dengan beragam pertunjukan seni budaya Nusantara. Di antaranya Sendratari Asmara Jenggala yang menggambarkan nilai sejarah, Tari Sekar Jagat sebagai tarian penyambutan, hingga Tari Gambyong yang menambah semarak suasana.


Dharma Santi sendiri merupakan tradisi saling memaafkan atau simakrama yang dilakukan umat Hindu setelah menjalani Catur Brata Penyepian. Pelaksanaan di Jawa Timur tahun ini kembali menegaskan bahwa keberagaman budaya dan agama menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan masyarakat yang harmonis, damai, dan inklusif.

(Yu)

×
Berita Terbaru Update