Notification

×

Iklan

Iklan

.

Tag Terpopuler

Di Hadapan Satgas Lawan Covid-19 DPR RI, Mendagri Beberkan Strategi Menanggulangi Covid-19

Kamis, 28 Mei 2020 | 21:56 WIB Last Updated 2020-05-28T13:56:23Z



KabarDesa.Co.Id, Jakarta- Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, menerima kunjungan Satgas Lawan Covid-19 DPR RI yang dipimpin langsung ketuanya sekaligus Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Kunjungan tersebut dalam rangka mencari masukan terhadap pelaksanaan kebijakan new normal  sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan dengan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 Tentang Panduan Pencegahan dan Pengen Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi pandemi.

Dalam sambutannya saat menerima kunjungan Satgas Lawan Covid-19 DPR RI, Mendagri mengatakan, pihaknya merasa terhormat disambangi Satgas DPR. Menteri Tito pun kemudian memaparkan apa saja yang sudah dan sedang dikerjakan kementeriannya dalam rangka penanganan Covid-19 ini. Menurutnya, pandemi Covid-19 ini merupakan kejadian luar biasa yang melanda hampir seluruh negara di dunia. Termasuk Indonesia. Katanya, 
belum pernah ada pandemik terluas seperti Covid-19 ini. Bagi Indonesia sendiri, inilah pandemik atau wabah terluas dalam sejarah Indonesia modern.

" Ini suatu yang sangat luar biasa dan ini krisis kesehatan yang kmudian memberikan efek domino. Efek domino kepada keuangan, sistem keuangan, sistem ekonomi, bahkan bisa berpengaruh kepada masalah sosial, krisis sosial dan keamanan. Nah oleh karena itu memang semua negara, saya kira menghadapi persoalan yang baru dan kita semua menjadi saksi sejarah sebetulnya. Saksi sejarah karena pertama kali dalam sejarah umat manusia ada wabah seluas ini. Semua saling belajar antar satu negara dengan yang lain, bahkan dari daerah pun sama antar provinsi, antar kabupaten atau kota, saling belajar satu sama lain, baik belajar dari keberhasilan maupun dari kekurangberhasilan, " tutur Mendagri.

Mendagri menambahkan, situasi saat ini memang dilematis. Karena di satu sisi ada masalah kesehatan yang berdimensi kemanusiaan. Di sisi lain, ini berdampak  pada ekonomi atau keuanagan. Maka sulit memang kalau melaksanakan dengan pola pikir “zero sum game” yakni mengutamakan salah satu dengan mengorbankan yang lainnya.  Semua negara yang dilanda wabah berprinsip bagaimana  bisa mencari keseimbangan. Dimana kedua sektor baik itu kesehatan dan ekonomi bisa diselamatkan. 

"  Mengutamakan keselamatan publik, kesehatan publik tapi juga ekonomi tetap bisa survive karena ini saling mempengaruhi," katanya. 

Berkaitan dengan tugas pokok Kemendagri sendiri, khususnya dalam rangka pembinaan dan pengawasan pemerintahan di daerah, dari awal sejak outbreak, pihaknya berusaha mengetahui seperti apa sebetulnya  Covid-19 ini.  Mengetahui virus ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan ia beruntung, dapat buku dari Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad yang berisi hasil penelitian dari tim Wuhan. Buku yang disusun Komisi Nasional Kesehatan China. Dalam buku dijelaskan tentang apa itu virus Covid-19 dan karakternya. Serta bagaimana treatmentnya, seperti apa cara menanganinya dan lain-lain.

" Saya begitu dapat dari Pak Dasco langsung saya membentuk tim, di pimpin Dirjen Bina Adwil (Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan) untuk saya sampaikan terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Setelah itu kita langsung puter, buat tim penerjemah dalam bahasa Indonesia dan setelah itu segera kami bagikan soft copy-nya kepada seluruh jajaran Kemendagri dan seluruh kepala daerah," katanya.

Ia pun sebagai Mendagri secara maraton berkunjung ke beberapa daerah mulai dari DKI Jakarta,  Jawa Barat,  Banten, Sumatera Selatan dan daerah lainnya. Setiap kunjungan, ia selalu membagikan buku yang disusun Tim Wuhan yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Langkah lain yang dilakukan Kemendagri dalam mendukung penanganan dan penanggulangan Covid-19, adalah dengan mengeluarkan kebijakan realokasi anggaran bersama Kementerian Keuangan. Sampai kemudian, dari realokasi anggaran itu terkumpul anggaran yang nilainya mencapai lebih kurang 69 triliun. Anggaran ini digunakan untuk mendukung penanganan Covid-19 dari sisi kesehatan, social safety net, dan untuk stimulus ekonomi.

"  Bapak Presiden pun sudah mmbuat gugus tugas yang dimpin oleh Letjen Doni Monardo, maka kami pun mendukung gugus tugas ini dengan permintaan personel dari gugus tugas,  ada beberapa orangnya Pak Dirjen Bina Adwil adalah bagian dari gugus tugas. Perwakilan Kemendagri yang ada di gugus tugas, ada juga perwakilan dari Ditjen Otda di sana," katanya.

Menteri Tito juga mengaku telah  memerintahkan seluruh kepala daerah untuk menjadi kepala gugus tugas.  Karena kepala daerah yang memiliki  power penuh untuk menangani masalah yang sifatnya extraordinary.  Sebelumnya posisi kepala gugus tugas  yang serahkan kepada Sekda. Ada juga yang dipegang kepala dinas kesehatan masing-masing.

" Kemudian kita banyak memberikan arahan-arahan baik melalui video conference bersama kementerian-kementerian terkait bagaimna kita mengembangkan 5 strategi sebetulnya untuk menjadi pegangan bagi daerah, " kata Tito.

Tito pun kemudian menjelaskan lima strategi yang dimaksud. Pertama, karena semua daerah sedang mencari format, maka ia meminta daerah harus fokus kepada upaya mencegah penularan. Itu harus jadi nomor satu, mulai dari sosialisasi, penguatan protokol, testing, pembatasan-pembatasan, termasuk di dalamnya adalah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dan termasuk dalam strategi nomor satu bagaimana warga agar terbiasa jaga jarak, pakai masker dan lainnya. Strategi kedua, terkait dengan bagaimana mendorong peningkatan sistem kekebalan tubuh warga.

" Ini skenario kita semua. Saya kira sama semua umat manusia ini, skenarionya berusaha untuk tidak tertular sampai ditemukan vaksinnya. Tapi kalau tertular bisa saja terjadi, tertular dalam kondisi kekebalan tubuh yang tidak baik, sehingga perlu ada upaya-upaya untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dan yang ketiga adalah meningkatkan  kapasitas sistem kesehatan, rumah sakit, tempat karantina, dan lain -lain di seluruh daerah. Yang keempat adalah peningkatan ketahanan pangan. Kemudian strategi yang terkahir adalah social safety net dan stimulus ekonomi, jadi menjaga jaring pengaman sosial," urai Mendagri.

Menurut Mendagri, jika dilihat strategi nomir satu, dua dan tiga, ini  telah dikerjakan oleh gugus tugas. Dan strategi  untuk masalah  social safety net ini titik sentral utamanya ada di Kemenko PMK bersama dengan Kementerian Desa dan kementerian lainnya. Kemudian strategi  untuk membangkit ekonomi itu ranahnya dari  kementerian bidang ekonomi.

 " Nah Kemendagri membantu semua, membantu gugus tugas, membantu Kemenki Perekonomian, membantu Kemenko PMK  untuk social safety net. Kira-kira itulah awal yang kami lakukan. Sekarang sudah mulai ketemu formatnya sebetulnya, bahwa untuk menangani ini membuat balance antara kesehatan publik, penanganan pandemik Covid-19 dengan menjaga situasi ekonomi tetap hidup. Itu memang kunci yang paling utama dalam upaya kita untuk menghindari penularan ini. Tetap  beraktivitas tapi mengindari penularan, dan kita semua sudah tahu yang nomor satu adalah pakai masker, yang nomor dua  menjaga jarak, dan yang ketiga itu mencuci tangan sesering mungkin, baik menggunakan air sabun atau menggunakan hand sanitizer berbasiss alkohol atau klorin. Nah ini persoalannya, kita semua tahu tapi ini belum sampai ke masyarakat bawah. Masih banyak masyarakat yang tidak pakai masker, masih banyak juga yang belum menjaga jarak, masih banyak juga yang belum melaksnkan cuci tangan, " kata Mendagri panjang lebar.

Itu pula yang tekankan kepada seluruh kepala daerah dan jajarannya agar secara gencar menyadarkan warga tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan secara disiplin. Perlu sebuah gerakan nasional untuk mewujudkan itu.  Perlu sebuah intervensi, karena menyadarkan warga tidak cukup dengan hanya mengkampanyekan.

" Tapi harus betul diintervensi dengan kebijakan publik. Jadi misalnya pakai masker, harus dilaksanakan selain social distancing,  sosialisasi pakai masker, bagi masker, lalu gerakan nasional membagi masker  yang diinisiasi oleh pemerintah atau eksekutif, legislatif, sama-sama. Semua bergerak, membagi masker, terutama masker yang dari kain. Yang kedua adalah gerkan nasional massif untuk mendorong warga cuci tangan pakai air sabun, artinya di tempat-tempat, di ruang publik harus diperbanyak sebanyak-banyaknya tempat cuci tangan dengan sabun yang disiapkan oleh pemerintah atau unsur lain yang didorong oleh pemerintah dan juga membagi hand sanitizer. Hand sanitizer ini adalah senjata kita yang paling utama. Ini adalah senjata perorangan,  untuk tiap orang yang harus ad di kantong terus. Yang ketiga adalah untk sosialisasi jaga jarak. Ini tidak cukup juga dengan berbicara tapi pemerintah pusat maupun daerah membuat aturan yaitu misalnya memberikan tanda di tempat antri, stasiun, terminal, pasar dan lain-lain.  Jarak dua meteran, sehingga clear, di samping diawasi dan dijaga. Mungkin itu langkah yang kami sarankan kedepan yang bisa dilakukan bersama-sama," kata Mendagri.(Rls/BR)
×
Berita Terbaru Update